running text

*** “Sebaik-baik manusia adalah orang yang selalu memberi manfaat kepada manusia lain.” (HR Muttafaqun Alaih) ***

Minggu, 14 Agustus 2011

UTS DAN UAS KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA


TEST PART I (UTS)


1.      Sebutkan pengertian Culture Shock dan jelaskan masing-masing tahapannya.?
Jawab :
Culture shock atau dalam bahasa Indonesia disebut “gegar budaya”, adalah istilah psikolgis untuk menggambarkan keadaan dan perasaan seseorang menghadapi kondisi lingkungan sosial dan budaya yang berbeda. Pada initinya, jika disimpulkan, gegar budaya adalah kondisi kecemasan yang dialami seseorang dalam rangka penyesuaiannya dalam lingkungan yang baru di mana nilai budaya yang ada tidak sesuai dengan nilai budaya yang dimilikinya sejak lama. Gegar budaya dianggap sebagai benturan persepsi yang diakibatkan penggunaan pesepsi berdasarkan faktor-faktor internal (nilai-nilai budaya) yang telah dipelajari orang yang bersangkutan dalam lingkungan baru yang nilai-nilai budayanya berbeda dan belum ia pahami.
Tahapan-tahapan Culture Shock, antara lain :
a.      Fase Bulan Madu, Pada fase ini, seseorang yang baru menginjakkan kakinya di wilayah yang asing baginya merasa semua hal berjalan mulus dan menyenangkan.  Hal-hal baru akan membuatnya merasa gembira dan menikmati gaya hidupnya di lingkungan dengan budaya baru.
b.      Fase Penolakan, Pada fase ini pendatang mulai harus berurusan dengan masalah-masalah kecil seperti transportasi, belanja kebutuhan, atau masalah komunikasi dengan masyarakat setempat. Pada fase inilah si pendatang mulai sering mengeluhkan hal-hal kecil didaerah barunya, fase ini juga yang paling penting untuk dikenali karena disinilah sipendatang mulai merasakan adanya “Krisis” dalam dirinya. Ia mulai menjelek-jelekkan daerah barunya, dan hanya bias melihat kekurangan-kekurangan yang ada.
c.       Fase Konformis, Pada fase inilah pendatang mulai memahami kebudayaan barunya, nilai-nilai moral yang berlaku serta apa yang menjadi panutan masyarakat disekitarnya. Krisis didalam dirinya telah berlalu ketika ia mulai dapat bertoleransi dengan perbedaan-perbedaar yang ada. Pada tahap inilah si pendatang secara 90% telah beradaptasi dengan lingkungan barunya
d.      Fase Asimilasi, Pada fase ini pendatang sudah bias menerima kebiasaan adat, pola pikir, bahkan makanan dan minuman di daerah barunya. Disinilah si pendatang berfikir bahwa tidak ada hal yang lebih baik atau kurang baik. Tetapi hanya “berbeda”. Bahwa ketika pulang kedaerah asalnya, ia mulai merindukan daerah yang pernah ditinggalinya dan selalu mengenang setiap peristiwa yang didalamnya untuk seumur hidup

2.      Di Indonesia kita mengenal masyarakat keturunan Cina. Menurut anda apakah secara umum mereka sudah mengalami proses asimilasi? Jelaskan beserta faktor yang menjadi pendorong/penghambat mereka melakukan asimilasi!
Jawab :
Menurut pendapat saya pribadi, masyarakat keturunan cina (tionghoa) di Indonesia sudah mengalami proses asimilasi. Alasannya, selain karena faktor historis masyarakat keturunan tionghoa yang telah ada sejak lama (sebelum kemerdekaan Indonesia), ada juga hal-hal lain yakni penggunaan nama-nama Indonesia oleh para warga keturunan tionghoa. Masyarakat keturunan tionghoa umumnya tidak lagi menggunakan identitas tionghoa mereka dalam data kependudukan dan administrasi, termasuk juga dalam memberikan nama terhadap tempat usaha mereka. Meskipun mereka masih menggunakan identitas tionghoa mereka saat berineraksi dengan sesamanya atau dengan komunitas tionghoa lainnya.
Faktor pendorong asimilasi :
a.       Toleransi di antara sesama kelompok yang berbeda kebudayaan
b.      Kesempatan yang sama dalam bidang ekonomi
c.       Kesediaan menghormati dan menghargai orang asing dan kebudayaan yang dibawanya.
d.      Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat
e.       Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan universal
f.       Perkawinan antara kelompok yang berbeda budaya

Faktor Penghalang asimilasi :
a.       Kelompok yang terisolasi atau terasing (biasanya kelompok minoritas)
b.      Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan baru yang dihadapi
c.       Prasangka negatif terhadap pengaruh kebudayaan baru. Kekhawatiran ini dapat diatasi dengan meningkatkan fungsi lembaga-lembaga kemasyarakatan
d.      Perasaan bahwa kebudayaan kelompok tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan kelompok lain. Kebanggaan berlebihan ini mengakibatkan kelompok yang satu tidak mau mengakui keberadaan kebudayaan kelompok lainnya
e.       Perbedaan ciri-ciri fisik, seperti warna kulit, bentuk mata,  atau rambut
f.       Perasaan yang kuat bahwa individu terikat pada kebudayaan kelompok yang bersangkutan
g.      Golongan minoritas mengalami gangguan dari kelompok penguasa

3.      Melting Pot adalah metafora yang digunakan untuk menggambarkan asimilasi masyarakat yang tinggal di Amerika Serikat. Apa yang dimaksud dengan melting pot dan apakah menurut pengamatan anda asimilasi sudah terjadi di Amerika Serikat pada masa sekarang ini? Jelaskan beserta contoh.
Jawab :
Melting pot adalah suatu keadaan dimana terjadinya peleburan berbagai ras, budaya, etnis dan agama di dalam sesuatu daerah, dimana mereka telah berasimilasi dan membawa kepada satu konsep asas tersendiri sehingga menimbulkan sebuah persatuan multietnis yang berkembang.
Menurut pengamatan pribadi saya, pada masa sekarang ini tentunya asimilasi telah terjadi di Amerika Serikat. Faktor historis bahwa Amerika Serikat merupakan negara yang didirikan oleh para imigran asal inggris dan bukan didirikan oleh bangsa asli amerika sendiri merupakan salah satu alasan saya. Selain itu peleburan antar etnis yang terjadi di Amerika Seriakat yang terdiri dari etnis Hispanic, Indian, Cina, Afro-America, dan sebagainya juga terasa cukup baik tanpa terjadi perpecahan. Meskipun terdapat indikasi etnis afro-america sedikit terpinggirkan, namun bukan berarti mereka tidak memiliki kesamaan hak. Contohnya adalah dengan terpilihnya Barrack Obama yang merupakan keturunan kulit hitam, sebagai Presiden Amerika Serikat. Selain itu, pernikahan antara etnis yang banyak terjadi di Amerika Serikat (antara orang amerika dengan orang keturunan asia, atau antara orang amerika dengan keturunan ameika latin) juga menunjukkan bahwa asimilasi di Amerika Serikat sudah cukup baik.




TEST PART II (UAS)

1.      Apa yang dimaksud dengan stereotype dan prejudice? Berikan contoh masing-masing pengertian!
Jawab :
  1. Stereotype
Stereotipe adalah kombinasi dari ciri-ciri yang paling sering diterapkan oleh suatu kelompok tehadap kelompok lain atau oleh seseorang kepada orang lain (Soekanto, 1993). Secara lebih tegas Matsumoto (1996) mendefinisikan stereotipe sebagai generalisasi kesan yang kita miliki mengenai seseorang terutama karakter psikologis atau sifat kepribadian. Ada juga yang mendefinisikan stereotipe sebagai “pemberian sifat tertentu terhadap seseorang atau sekelompok orang berdasarkan kategori yang bersifat subjektif, hanya karena ia berasal dari suatu kelompok tertentu (in group atau out group), yang bisa bersifat positif maupun negatif” (Amanda G., 2009)..
Contoh stereotype misalnya, kita mengenal bahwa wanita sunda adalah wanita yang matrealistis, orang minang adalah orang yang pelit dan pandai berdagang, atau kita juga mendengar bahwa orang jamaika yang identik dengan ganja.
  1. Prejudice (prasangka)
Prasangka merupakan pernyataan atau kesimpulan tentang sesuatu berdasarkan perasaan atau pengalaman yang dangkal terhadap seseorang atau sekelompok orang tertentu (Amanda G, 2009). Johnson (1986) mendefiniskan prasangka sebagai sikap positif atau negatif berdasarkan keyakinan stereotip kita tentang anggota dari kelompok tertentu. Liliweri (1995) juga menyebut prasangka yang mengandung sikap, pikiran, keyakinan, kepercayaan dan bukan tindakan (tetap ada di pikiran). Sedangkan Daft (1999) memberikan definisi prasangka lebih spesifik yakni kecenderungan untuk menilai secara negatif orang yang memiliki perbedaan dari umumnya orang dalam hal seksualitas, ras, etnik, atau yang memiliki kekurangan kemampuan fisik. Sedangkan sherif and sherif (dalam Ahmadi, 2007: 196) mengemukakan prasangka adalah suatu sikap negatif para anggota suatu kelompok, berasal dari norma mereka yang pasti, kepada kelompok lain beserta anggotanya. 
Contoh prasangka misalnya, orang Jepang dianggap kaku dan pekerja keras, orang Cina itu mata duitan, para politikus itu adalah penipu, dan lain-lain.
2.      Jelaskan pengaruh kebudayaan India/Hindu terhadap kebudayaan Indonesia dalam berbagai aspek budaya!
Jawab :

Adapun pengaruh kebudayaan India/Hindu terhadap kebudayaan Indonesia mencakup beberapa aspek kebudayaan, antara lain :
a.       Aspek Seni Bangunan
Dasar bangunan candi itu merupakan hasil pembangunan bangsa Indonesia dari zaman Megalitikum, yaitu bangunan punden berundak-undak. Punden berundak-undak ini mendapat pengaruh Hindu, sehingga menjadi wujud sebuah candi, seperti Candi Borobudur.
b.      Aspek Seni rupa/Seni lukis
Unsur seni rupa dan seni lukis India telah masuk ke Indonesia.hal ini terbukti dengan ditemukannya patung Budha berlanggam Gandara di kota Bangun, Kutai  Pada Candi Borobudur tampak adanya seni rupa India, dengan ditemukannya relief-relief ceritera Sang Budha Gautama. Relief pada Candi Borobudur pada umumnya lebih menunjukan suasana alam Indonesia, terlihat dengan adanya lukisan rumah panggung dan hiasan burung merpati.  Di samping itu, juga terdapat hiasan perahu bercadik. Lukisan-lukisan tersebut merupakan lukisan asli Indonesia, karena tidak  pernah ditemukan pada candi-candi yang terdapat di India. Juga relief pada Candi Prambanan yang memuat cerita Ramayana.
c.       Aspek Seni sastra
Prasasti-prasasti awal menunjukkan pengaruh Hindu di Indonesia, seperti yang ditemukan di Kalimantan Timur, Sriwijaya, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Prasasti itu ditulis dalam bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa.
d.      Aspek Sistem Penanggalan
Diadopsinya sistem kalender atau penanggalan India di Indonesia merupakan wujud dari akulturasi, yaitu terlihat dengan adanya penggunaan tahun Saka di Indonesia. Di samping itu, juga ditemukan Candra Sangkala atau konogram dalam usaha memperingati peristiwa dengan tahun atau kalender Saka. Candra Sangkala adala angka huruf berupa susunan kalimat atau gambar kata. Contoh tahun Candra Sangkala adalah “Sirna Ilang Kertaning Bumi” sama dengan 1400 (tahun saka) dan sama dengan 1478 Masehi.
e.       Aspek Kepercayaan dan Filsafat
Masuk dan berkembangnya pengaruh Hindu  meninggalkan kepercayaan asli bangsa Indonesia, terutama terlihat dari segi pemujaan terhadap roh nenek moyang dan pemujaan terhadap dewa-dewa alam.
f.       Aspek Pemerintahan
Setelah masuknya pengaruh Hindu,  tata pemerintahan disesuaikan dengan sistem kepala pemerintahan yang berkembang di India. Seorang kepala pemerintahan bukan lagi seorang kepala suku, melainkan seorang raja, yang memerintah wilayah kerajaannya secara turun temurun.
g.      Aspek Tradisi Spiritual
Meskipun saat ini Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia namun proses ibadah yang terjadi tidak terlepas dari pengaruh kebudayaan hindu. Misalnya saja tradisi balimau kasai di kabupaten Kampar, Riau dan tradisi penyerahan sesajian pada masyarakat islam kejawen di pulau jawa.



3.      Salah satu dimensi budaya menurut Hofstede adalah Masculinity/Feminity. Jelaskan arti kedua istilah tersebut, masyarakat negara mana yang tingkat maskulinitasnya tinggi, masyarakat negara mana yang tingkat feminitasnya tinggi, terletak dimanakan posisi Indonesia menurut anda? Berikan beserta contohnya masing-masing!
Jawab :

a.       Masculinity
Adalah perkembangan dimana nilai lebih dominan dalam masyarakat adalah yang berorientasi maskulin. Kultur maskulin menggunakan eksistensi biologis dari dua gender untuk menjelaskan aturan perbedaan social untuk laki-laki dan wanita, mereka mengharapkan lelaki lebih percaya diri, ambisius, dan kompetitif, dan bersemangat menggapai materi, menghormati yang besar, kuat dan cepat.
Contoh negara dengan tingkat maskulinitasnya tinggi adalah di jepang, dimana mayoritas posisi pimpinan maupun posisi legislatif dipegang oleh pria dengan persentase mencapai 95%.

b.      Feminity 
Adalah sebuah kultur yang menilai feminitas sebagai sikap yang bersikap maju. Dunia feminine melihat pengaturan bahwa lelaki perlu aktif dan karenanya mereka berasumsi dengan membuat aturan yang berkembang, juga didalamnya persamaan gender memegang peranan dalam lingkungan. Dapat disimpulkan dalam kultur feminine mereka menjaga agar “menguasai aturan sosial untuk semua gender”. Kemerdekaan internal dan kebiasaan persamaan gender adalah yang ideal, dan orang akan bersimpati dengan ketidak beruntungan tersebut. 
Contoh negara dengan tingkat feminitasnya tinggi adalah Swedia, dimana wanita memiliki persentase 41% mengusai posisi legislatif.

Sedangkan di Indonesia sendiri, menurut pribadi saya, tingkat maskulinitasnya lebih tinggi daripada feminitasnya. Tentu saja hal ini sama seperti negara-negara lain yang masih menjunjung tinggi tradisi ketimuran dan beranggapan bahwa wanita kodratnya hanya berada “dibawah pria”. Selain itu hal tersebut dapat tercermin dari posisi pemerintahan dan legislative yang didominasi oleh kaum pria, meskipun tidak ada larangan bagi wanita untuk menempati posisi tersebut.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar