running text

*** “Sebaik-baik manusia adalah orang yang selalu memberi manfaat kepada manusia lain.” (HR Muttafaqun Alaih) ***

Minggu, 30 Juni 2013

New Passion, New Life

Wah, sudah hampir setahun saya tidak memposting sesuatu di e-diary ini, semoga gak ngambek nih blog.
Setahun, gak terasa udah banyak sekali perubahan yng terjadi dalam hidup saya. Mulai dari kenyataan harus hidup sendiri di kota bertuah ini pasca kepindahan keluarga ke Batam, beberapa teman seperjuangan saya yang sudah resmi menyandang S.Ikom dibelakang namanya (meninggalkan saya yang masih di fase, ah syudahlah,..), bagaimana saya akhirnya takluk dengan keadaan yang memaksa saya menggunakan smartphone merk buah beri hitam (padahal dulu saya anti dengan alay-alay yang sangat pemalu dan doyan menunduk ), hingga bagaimana kini waktu saya hampir 60% saya habiskan ditempat yang sudah saya anggap rumah sendiri, Radio RBT 90 FM Pekanbaru.
Di tempat itu, sekitar setahun lalu saya mencoba peruntungan bergabung dengan dunia yang dulu pernah amat saya sukai (namun sadar akan keterbatasan diri) dengan melamar sebagai seorang announcer. Entah takdir atau hanya keberuntungan belaka, akhirnya saya bergabung dengan teman-temen seperjuangan lain (AA, DZ, AR, NR). Saya yang saat itu sedang dalam masa KKN harus rela meluangkan waktu untuk dapat bergabung dengan teman-teman untuk dilatih. Dan, bulan-bulan pertama saya rasakan sangat hangat dengan hubungan layaknya keluarga hingga tiba masa dimana kami harus dipisahkan karena beberapa dari kami belum mampu menncapai target progress yang diharapkan.
Setelah mengalami dinamika, dengan mulai hanya menjadi announcer, mencoba posisi sebagai bagian produksi (audio creator) dll, hingga kini saya disaat bersamaan setidaknya merangkap beberapa posisi mulai dari produksi, program director, marketing, hingga traffic dan database. Saya tidak menganggap diri saya hebat dengan situasi tersebut karena jujur saat ini saya menganggap bahwa ini adalah proses pembelajaran dalam mendalami secara detail dengan dunia yang kebetulan cocok dengan pendidikan saya di bidang broadcasting (penyiaran). Untuk permasalahan salary, saya sama sekali tidak pernah mempermasalahkan berapapun saya diapresiasi atas kontribusi saya bagi perusahaan. Kalau perusahaan memberi salary tidak begitu tinggi maka saya mengartikannya sebagai kontribusi saya bagi perusahaan belum begitu besar dan saya akan berusaha meningkatkannya, demikian pula sebaliknya. Prinsip saya adalah, ini merupakan tempat untuk belajar bukan untuk mendapatkan penghasilan.
Memikul tanggung jawab yang tidak kecil tentu saja memberikan beberapa imbas bagi kehidupan saya. Mulai dari pola tidur yang tidak teratur dan berbeda dengan kebanyakan orang, kuliah yang terkatung-katung, hingga waktu yang terasa hanya sedikit bagi "sang pujaan hati" dan interaksi dengan lingkungan sosial harus saya rasakan. Tapi sekali lagi saya tekankan bahwa saya ikhlas menjalani semuanya sebagai suatu pembelajaran hidup yang tak ternilai selagi perusahaan masih membutuhkan kontribusi saya. Pengorbanan-pengorbanan  (jika boleh menyebutnya sperti itu) kecil yang saat ini saya jalani setidaknya saya yakini akan berguna bagi kehidupan masa depan saya. Karena saya percaya tidak pernah ada sesuatu yang sia-sia di dunia ini
Kepada anda yang sedang merintis karir dari dasar, saya hanya berpesan bahwa cintailah apa yang anda kerjakan saat ini dan jadikan itu sebagai tempat anda belajar, setidaknya belajar memahami karakter orang yang ada dilingkungan kerja anda. Berorientasilah pada proses, bukan pada hasil apalagi komersil. Karena apa yang anda lakukan dengan hati yang penuh kesungguhan akan memberikan hasil yang sepadan bahkan lebih dari yang anda harapkan.
*terima kasih untuk semua yang sudah meiliki peran dalam perjalanan kehidupan saya.

Minggu, 12 Agustus 2012

SOLIDARITY are SOLI-DIE-RITY now!

Pernah dengar istilah kekompakan?
kebersamaan?
kesetiakawanan?
dan ke-an ke-an lainnya yang menandakan bahwa manusia adalah makhluk sosial?

Kalau tidak, coba pastikan apakah anda memang manusia atau bukan.
Bila pernah, apakah anda yakin hal itu masih ada?
Atau hanya sekedar salah satu kata terindah yang pernah diciptakan manusia zaman dulu?
Zaman dimana tak ada kata individualistis.


Bagi sebagian orang solidaritas itu berharga, amat berharga, begitu pula bagi saya.
Tapi, ITU DULU!
Setelah hari ini saya akan berfikir ulang untuk percaya hal itu ada.
Bukan kenapa-kenapa, saya takut gak punya teman yang komitmennya bisa dijaga.
Karena sebagian orang pasti lupa, terutama udah dapat apa yang diinginkannya.
lalu kita? 
EMANG LU SIAPA???!!!

Hari ini? YA HARI INI.
kenapa? 
Tak perlulah diceritakan, yang jelas saya cuma ingin berpesan.
Silahkan sekarang anda gembira, tapi yakinlah itu takkan lama,
karena saat orang tau seperti apa anda, maka itulah awal anda akan binasa.

Saya tak bilang saya banyak berjasa, saya cuma kecewa karena tak tau kemana hilangnya suara-suara yang dahulu meneriakkan kebersaman?
Saya korbankan apa yang ada dalam benak, ikut turut dengan apa yang dianggap terbaik,
Tapi sekarang apa?
Tak tergerakkah hati anda untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak saya?
Atau setidaknya mendapatkan hal seperti anda, bukankah kita seiya-sekata? bekerja bersama?
bertugas adil sama rata?

Pemimpin itu laksana menara, ditopang oleh pilar-pilar yang disebut anggota.
Anggota yang percaya tampuk kepemimpinan yang baik ada di tangan anda.
Itulah yang membuat anda gagah dan berwibawa
Tapi saat mereka kecewa, hilanglah semua,
Yang ada hanya seonggok daging tak berguna,




Jumat, 20 Juli 2012

MARHABAN YAA RAMADHAN

Tak terasa Sya'ban tlah berlalu, Ramadhan pun tlah menunggu,
Puji syukur Yaa Allah, Dzat Maha Pengasih dan Maha Pemurah,
Masih Engkau perkenankan hambamu bertemu dengan bulan penuh ampunan.
Marhaban Yaa Ramadhan,

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1433 H

Minal Aidin Wal Faidzin,
Mohon Maaf Lahir dan Bathin.



Rabu, 06 Juni 2012

Dear Bapak MENKOMINFO,

* Kalau anda merasa aneh dengan judul post diatas, ketahuilah bahwa saya juga begitu.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Dear pak menteri,
Ini hari keenam pasca diberlakukannya kebijakan interkoneksi berbasis biaya, dan saya belum mengisi pulsa saya Pak, bukan karena saya tidak ada uang, tapi karena sampai sekarang saya belum paham benar dengan tujuan diberlakukannya kebijakan tersebut. Yang jelas semenjak kebijakan itu ditetapkan, provider yang saya gunakan hanya memberi kuota 20 sms untuk tujuan operator lain. Hal serupa juga dirasakan teman saya yang providernya juga memberikan kuota yang sama, padahal sebelumnya kami mendapat jatah ratusan bahkan ribuan, Pak.

Pak menteri,
Apakah Bapak pernah bertemu dengan seseorang yang nyaris kena serangan jantung karena kehabisan pulsa yang baru dibelinya beberapa saat sebelumnya? Ya, dia memang seorang maniak sms, karena dapat dipastikan dalam sehari dia mengirimkan tak kurang dari 200 sms kepada teman-temannya, dan Bapak tau, teman-temannya adalah pengguna provider yang beragam. Bukan Pak, dia bukan pengirim sms spam! Dia hanya seorang muslim yang selalu mengirimkan tausiah singkat kepada teman-temannya, karena menurutnya itu sarana Amar Ma'ruf Nahi Munkar yang dapat dengan konsisten dia kerjakan. Dan tidak ada satu orangpun dari teman-temannya yang mengeluh atas sms penyejuk hati tersebut.

tidak akan ada lagi sms
gratis antar provider
Apakah masyarakat menengah kebawah dan mahasiswa idealis seperti saya harus memiliki Smartphone seperti buatan RIM atau yang berbasis Android dengan fasilitas massenger keren untuk dapat eksis dan bersosialisasi Pak? Lagian, (IMHO) kebijakan ini hanya menguntungkan provider dan pengelola traffic, bukan masyarakat atau konsumen. Provider bisa dapat banyak keuntungan dari penggunanya, sedangkan pengelola traffic bisa lebih santai dalam bertugas (CMIIW).

Bapak yang terhormat,
Tanpa bermaksud su'uzon nih Pak, saya berharap semoga saja kebijakan ini memang dibuat dengan maksud yang baik demi kemajuan bangsa, bukan karena motif ekonomi atau politik semata. 

Wabillahi Taufiq Wal Hidayah
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selasa, 05 Juni 2012

DeathLine!

     Hari ini H-11 untuk batas akhir pengumpulan semua tugas yang ada di semester ini. Memang sih, banyak yang bilang kalau mahasiswa itu punya kekuatan "Ngebut Di Ujung" yang artinya kurang lebih baru bernafsu mengerjakaan tugas di akhir batas waktu akhir dan kebanyakan mereka gagal total sukses melakukannya.

     Tapi kalau anda berada dalam posisi saya, apa yang akan anda lakukan? Saya memiliki 9 mata kuliah di semester ini dan hampir seluruhnya punya tugas yang harus diselesaikan pada waktu yang sama, akhir semester dan itu berarti 11 HARI LAGI!

     1 film pendek, 1 video clip, 2 reportase televisi, 1 iklan radio! Belum lagi tugas paper untuk beberapa mata kuliah lain. Apabila waktu yang lalu ada dispensasi dari dosen untuk mengumpulkan tugas sebelum batas akhir penyerahan nilai mahasiswa ke pihak akademik, namun kali ini dipastikan bahwa TIDAK ADA DISPENSASI! Know why? karena seminggu kemudian adalah waktu meninggalkan kota ini  untuk Kuliah Kerja Nyata! The deadline is really DEATH LINE!

*Bagi anda yang membaca ini sebelum tanggal 16 Juni 2012, saya mohon doanya, semoga dapat mengakhiri semester ini tanpa jarum infus di lengan. 

Senin, 04 Juni 2012

NEW WORLDS

      Banyak sebenarnya yang ingin saya tulis tapi gak tau harus mulai darimana. Setelah terabaikan selama beberapa bulan, entah mengapa saya ingin sekali posting sesuatu di blog saya ini. Dan kali ini yang terfikir malah tentang dunia baru yang sedang saya nikmati, STAND UP COMEDY.

         Saya sendiri lupa entah mengapa saya bisa kenal dengan dunia ini. Dunia yang menurut saya seperti "Roller Coaster tanpa finish" karena menantang, berbahaya, namun mengasikkan. Menantang karena menuntut keberanian, kekuatan mental, serta kemampuan komunikasi yang sangat baik dalam menyampaikan meteri lawakan, sehingga mampu membuat penonton tertawa. Berbahaya karena bisa merusak image dan kepercayaan diri bagi yang tidak mampu menghadapi tantangannya. Namun mengasikkan saat anda berhasil membuat satu saja orang tertawa dan memaksa anda mencoba lagi agar lebih banyak orang yang tertawa.

      Yang jelas, ini bermula ketika tanpa sengaja saya menemukan video Ebisu Muscats Stand Up Comedy(SUC)-nya mas Pandji Pragiwaksono di Youtube. Video yang mampu mengocok perut saya secara maksimal, dan mampu menghipnotis saya hingga tak bosan untuk mengulang-ulang video ini. Dan ternyata saat itu SUC memang telah mewabah di Indonesia, bahkan sampai di kota saya, Pekanbaru. Saya akui memang sepertinya saya sedikit terlambat mengenal dunia ini, but its okey. 

        Pasca keterlambatan saya mengenal SUC, hingga melewatkan STAND UP NITE 1 di Pekanbaru (Headlinernya koh Ernest Prakasa, Mongol, dan Mo Sidik) ternyata saya memperoleh informasi bahwa ada dua orang di kampus yang "berpotensi" saya kenal yang telah lebih dulu bergabung dengan komunitas SUC di Pekanbaru. (Rencananya saya mau nyebut si Faqih sama Randy, tapi gak jadi aja). Mereka berdua ternyata sudah level diamond (seperti MLM) karena sudah punya banyak fans (ayey!). Modal nekat, saya beranikan diri untuk datang ke Plasa Soto, venue Open Mic mingguan, melihat secara langsung dan beruntung si Randy memberikan respon kepada saya malam itu, hingga batal "FOOLS NITE" yang saya bayangkan. Dan entah mengapa muncul ide itu, MEMBENTUK KOMUNITAS SUC KAMPUS, di kampus saya yang notabene isinya orang-orang yang *ah sudahlah!

SUC UIN SUSKA bareng Soleh Solihun
dan Acho di SUN#2
       Dan setelah mempersiapkan nyaris masak, dengan modal seadanya, publikasi pas-pasan, kemampuan tingkat  dasar, dan keberanian untuk berjalan meraba-raba akhirnya ide itu TEREALISASI. Terbentuklah KOMUNITAS SUC UIN SUSKA RIAU dengan anggota awal 12 orang pada 2 Maret 2012. Dan hingga kini, di usianya yang menginjak 3 bulan komunitas ini perlahan-lahan mulai menancapkan tajinya di dunia per-SUC-an kampus, khususnya UIN Suska (yaiyalah!) dengan program dan kegiatan yang menghibur. Semoga kedepannya komunitas ini semakin solid, dan mampu berbicara banyak.

         Terakhir, bagi anda yang membaca ini, ingatlah bahwa anda tidak diwajibkan tertawa saat seorang comedian ngomic, namun tunjukkanlah respect anda kepada mereka yang berusaha mambuat anda dan orang lainnya tertawa. Respect others then others will respect you.


New Domain

     It's my new domain. Gak ada yang berubah kok, cuma domainnya aja. Kalau biasanya mampir kesini lewat www.jhoniakbar.blogspot.com sekarang cukup www.jhoniakbar.co.cc.

    Semoga gak cuma nama domainnya aja yang berubah, tapi juga isinya bisa jadi lebih menginspirasi, memberikan pengetahuan baru, bahkan memprovokasi pembaca! :D

      Kalau gak suka isinya, jangan dimaki-maki karena cuma bakal nambah dosa. Cukup klik tanda silang di sudut kanan atas layar monitor anda.

Rabu, 18 Januari 2012

Desain Logo Broadcasting



Desain logo konsentrasi Broadcasting yang dibuat sebagai tugas mata kuliah Desain Grafis,

Tema dasarnya adalah Words logo, dimana apabila diamati maka gambar daun di kiri menggambarkan huruf B (terbalik) dan huruf R yg membentuk akronim dari Broadcasting.

Daun berhelai 3 menggambarkan Tri Dharma Perguruan tinggi, dan juga letak Broadcasting sendiri (diantara Art, Sciens, and Religion)

Kenapa daun?? karena daun memberikan banyak filosofi kehidupan seperti KEMANDIRIAN, KEMAMPUAN ADAPTASI, PRODUKTIFITAS, KEANEKARAGAMAN MANFAAT, KESEIMBANGAN, DAN KEINDAHAN.

Warna yang digunakan adalah hijau dan coklat, yang selain karena memang merupakan warna general untuk daun dan batangnya, hijau yang berkesan "sejuk" dapat berarti kesegaran, kealamian, dan pembaharuan (sangat populer di jazirah arab), sedangkan warna coklat yang lebih "netral" dapat berarti kepercayaan, kedewasaan, keseimbangan dan daya tahan

#UJIAN,...


Waaaaahhh, udah lama banget gak posting :[
ini postingan pertama di tahun Naga 2012, :)



Catatan ini cuma opini penulis, jadi mohon maaf bagi yang tidak berkenan, :)

#UJIAN,...

Yups, mungkin itu adalah kata yang menjadi trending topic saat ini, khususnya bagi mahasiswa-mahasiswi dari "Kampus Islami Madani" UIN Suska Riau. Mulai senin lalu (16/01) hingga beberapa hari kedepan para rekan sejawat akan "bertempur" menghadapi serbuan soal demi soal dari setiap mata kuliah yang diambil semester ini.

Nah, kini kita fokuskan saja ini perhatian kita ke  Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikas UIN Suska Riaui. (karna lebih mudah diamati oleh penulis, hehehe)

Seperti biasa, ujian selalu identik dengan peraturan dan tata tertib yang super ketat. Demikian pula halnya yang terjadi di FDIK pada momen UAS kali ini. Setidaknya, dari pengumuman tata tertib ujian yang terpampang di setiap ruang ujian tak kurang dari belasan poin tata tertib yang tercantum mulai dari pakaian, KRS, larangan atribut, waktu, hingga mengenai pengawas ujian ada di sana. Yah, meskipun bisa dikatakan lumrah, namun ada beberapa poin yang menjadi perhatian penulis, diantaranya:
1. Setiap peserta ujian harus membawa KRS, bagi peserta ujian yang tidak membawa KRS tidak dibenarkan mengikuti ujian.
2. Peserta ujian harus berpakaian:
       a.Mahasiswa : Baju kemeja putih POLOS, celana hitam, dan pakai sepatu
       b.Mahasiswi : Jilbab Putih, baju kurung putih POLOS, rok hitam dan pakai sepatu
3. Selama ujian berlangsung, tidak dibenarkan membawa buku catatan, kecuali bagi ujian yang bersifat OPEN BOOK
4. Peserta ujian tidak dibenarkan keluar ruangan selama ujian berlangsung, dll

Nah, ini dia saatnya kita bahas satu-persatu poin yang menjadi perhatian penulis.

Pertama, bahwa seluruh peserta ujian harus membawa KRS, SEPAKAT BANGET. Tapi, (IMO) knapa harus ada sanksi tidak dibenarkan ikut ujian bagi yang gak bawa? Rasionalisasinya seperti inii, kalo mahasiswa tidak membawa KRS pada waktu ujian, di waktu mendatang masih punya kesempatan untuk dapat tanda tangan KRS dari dosennya, tapi kalau sampai dilarang ikut ujian, siapa yang bisa jamin kalau si mahasiswa yang tidak membawa KRS akan bisa ujian susulan dan dapat nilai??? Salah satu peraturan yang melemahkan advokasi mahasiswa.

Kedua, mahasiswa dan mahasiswi harus berpakaian Putih-Hitam POLOS. Know What? sampai saat ini penulis belum tau alasan yang rasional  kenapa ada peraturan seperti ini. Apakah dengan memakai pakaian putih-hitam maka mahasiswa akan lebih mampu menjawab soal ujian dengan benar?? Apakah dengan begitu akan mampu mengurangi perilaku menyontek mahasiswa??? atau, apakah tanpa berpakaian putih-hitam akan menghambat proses ujian???  TIDAK, TIDAK, TIDAK-lah jawabannya. Memang keliahatannya kompak dan rapi, tapi sama sekali tidak urgent. Apakah sebelum ditetapkan tata tertib tersebut seluruh pihak yang terkait sudah benar-benar memikirkan masak-masak mengenai hal ini. Bagaimana kalau ada mahasiswa yang ujian dari senin sampai sabtu sementara cuma punya baju "putih polos" cuma satu? Bagaimana kalau ternyata ada mahasiswa yang tidak punya baju "putih polos"? Bagaimana bila waktu yang seharusnya digunakan oleh mahasiswa untuk belajar harus tersita hanya karena harus mencuci baju atau mondar-mandir minjam baju kepada temannya?  belum lagi permasalahan harus menggunakan baju "PUTIH POLOS" yang benar-benar POLOS, karena penulis sendiri baru saja melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana wajah sedih dan kecewa para "KORBAN PUTIH POLOS" yang diusir dari ruang ujian hanya karena menggunakan baju putih "tidak polos". Masalah yang kompleks, ironis, dan tragis  menurut penulis.

Ketiga, OPEN BOOK??? Penulis rasa itu adalah salah satu peraturan yang "manusiawi"  diantara peraturan-peraturan lainnya. Bukan karena penulis bermasalah dengan metode CLOSE BOOK, tapi bukankah seharusnya metode yang paling tepat dalam menguji mahasiswa adalah dengan soal-soal yang bersifat pengembangan masalah atau kasuistik yang mampu merangsang pemahaman mahasiswa terhadap materi. Mahasiswa bukan anak sekolahan lagi yang dituntut harus hafal dengan apa yang disampaikan oleh dosennya ataupun yang terdapat dalam buku-buku literatur (karena terkadang dosennya juga harus lihat buku pada saat menyampaikan materi perkuliahan, hehehe). 

Dan yang Terakhir, mahasiswa dilarang keluar ruangan saat ujian berlangsung. Mungkin, peraturan ini dibuat untuk mengantisipasi suasana yang kurang kondusif saat ujian berlangsung atau mengantisipasi peserta ujian yang mau mencari jawaban di luar ruangan (seperti liat catatan yang ditinggalkan diluar, googling pake hape, atau tanya sama teman diluar, *penulis tau karna dulu juga pernah seperti itu). Peraturan ini juga membuktikan bahwa pembuat peraturan ini sudah lumayan hafal dengan trik-trik mahasiswa (WASPADALAH, WASPADALAH!).  TAPI GIMANA KALAU MISALNYA TIBA-TIBA ADA GEMPA??? apa masih tetap gak keluar juga? Karena bagaimanapun peraturan tetap peraturan yang harus dilanggar, eh maksudnya dipatuhi.
(poin yang terakhir itu cuma intermezo aja kok, :) )

Nah, melihat hal diatas, penulis menilai sudah sepatutnyalah para pelaksana peraturan (mahasiswa, red) diikutsertakan dalam setiap proses pembuatan keputusan. Jadi, tidak hanya para pembuat peraturan saja yang duduk bersama dan kemudian melahirkan peraturan yang mungkin akan mengalami kontra dari para pelaksananya. Jadi, selalu tercipta sinergitas antara pimpinan dan juga mahasiswa menuju Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang lebih baik lagi. Ingat, pemimpin yang baik adalah yang mampu nemahami apa yang diinginkan oleh rakyatnya. (kalo gak nyambung, di sambung-sambungin aja deh!)

Rabu, 26 Oktober 2011

Tips Jika Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Sakit hati, kecewa atau bahkan merasa malu bila kita menyadari bahwa cinta yang kita bangun ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Ironis sekali kedengarannya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut bisa terjadi pada siapa saja. Bahkan terkadang kamu yang mengalaminya akan merasa bahwa kamu yang berlaku salah. Karena terlalu membesarkan perhatian yang kamu terima dari seseorang. 

Namun kehidupan akan terus berjalan. Tidak perlu menyesali secara berlebihan apa yang menimpa kamu. Yakinkan bahwa mungkin orang yang kamu sukai bukan orang terbaik yang patut mendapatkan cinta kamu. Berikut ini ada beberapa hal yang dapat kamu lakukan untuk menolong diri kamu sendiri dan mengeluarkan diri kamu dari rasa sedih yang terkadang berkepanjangan. 

1. Sadari Posisi Kamu
Sadarilah, betapa besar rasa suka kamu pada dirinya, dia tidak akan membalas perasaan kamu. Kamu tidak bisa membuat seseorang jatuh cinta pada kamu walaupun segigih apapun usaha kamu. Lebih baik kamu berusaha mencari kesibukan untuk menghilangkan perasaan kamu yang besar padanya.

2. Yakinkan Bahwa Kita Akan Mendapatkan Yang Terbaik. 
Kamu pantas mendapatkan seseorang yang menghargai dan peduli dengan kamu. Untuk itu tanamkan keyakinan pada diri kamu bahwa suatu saat kamu akan memperoleh yang terbaik, seperti yang diharapkan. Dengan keyakinan seperti itu kamu bisa menanamkan rasa percaya diri untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik.

3. Jangan Menyalahkan Diri Sendiri
Kebanyakan dari kamu mungkin akan menyalahkan diri sendiri dengan mempertanyakan kenapa hal ini bisa menimpa kamu. Seandainya lebih berhati-hati dan tidak mengembangkan perasaan lebih jauh atas semua perhatian dan kasih sayangnya, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi. Hal seperti itu akan kerap menghantui pikiran kamu. Tapi untuk saat ini jauhkan rasa bersalah dari hati kamu. Jangan buat pengandai-andaian. Dan jangan pernah membayangkan hal-hal yang tidak berguna. 

4. Jangan Mengembangkan Perasaan Kamu
Mungkin kamu sempat berpikir bahwa penolakan tersebut hanyalah masalah waktu. Dan kamu berusaha memperbaiki diri habis-habisan untuk mendapatkan perhatiannya kembali. Jangan pernah mencoba-coba mendapatkannya kembali, kamu tidak akan pernah berhasil. Sepertinya hal tersebut telah terlambat. Jika ingin berubah lakukan untuk diri sendiri. Dan sekarang sudah waktunya memikirkan diri kamu sendiri.

5. Carilah Orang Lain Yang Mengerti Kamu
Saat seperti ini adalah saat yang tepat untuk mencari teman sebanyak-banyaknya. Atau mencari keluarga atau teman yang dapat memahami perasaan kamu. Berbagilah dengan mereka, siapa tahu dari mereka,kamu mendapatkan pelajaran yang patut diikuti.

6. Tekuni Hobi
Lakukan hobi ataupun segala sesuatu yang membuat kamu gembira. Lepaskan pikiran dan perasaan dari segala sesuatu yang sudah lewat. Caranya dengan menyibukkan diri.

7. Buka Lembaran Baru
Tutup kesedihan kamu. Buka lembaran baru dalam kehidupan . Bila merasa marah, kecewa atau hal yang lainnya, mungkin hal tersebut perasaan yang wajar dan normal-normal saja. Tapi tentukan kapan kamu harus melepaskan "masa berkabung" dengan menentukan cita-cita dan harapan baru.

8. Jangan Terburu-buru Mencari Pengganti
Jangan terburu-buru mencari orang lain sebagai pengganti. Tidak adil untuk orang tersebut. Berikan waktu untuk diri kamu supaya pulih terlebih dahulu dan bisa menerima kehadiran seseorang dengan sepenuh hati bukan karena ingin lari dari kenyataan.

9. Jangan Terlalu Obsesif
Jika kamu merasa tidak dapat mencegah diri untuk mengejar-ngejarnya, carilah bantuan secara profesional.

Masa depan kamu terbentang luas. Bangkit dari kesedihan dan Badai pasti berlalu. Dan cita-cita kamu akan mudah dicapai dengan pikiran dan hati yang jernih. Bila belum bisa bangkit dari rasa tersebut, kamu akan ketinggalan satu langkah di belakang dari orang lain.

sumber: http://unikboss.blogspot.com/2010/10/sakit-hati-kecewa-atau-bahkan-merasa.html


Rabu, 17 Agustus 2011

Dirgahayu Indonesiaku

Nuansa perayaan kemerdekaan RI ke-66 masih tetap berdenyut dijantung bangsa ini, meski tak se-gegap gempita perayaan dua tahun sebelumnya, karena  HUT RI tahun lalu dan sekarang tepat berada di bulan Ramadhan.   Namun tentu saja, momen seperti ini memiliki makna yang sangat mendalam, khususnya bagi umat Islam Indonesia, karena proklamasi yang dikumandangkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta tahun 1945 itu pun terjadi di bulan Ramadhan,  sehingga merupakan peristiwa sejarah yang bukan saja bernilai secara politis, tetapi juga bermakna religius.
          

logo 66 tahun kemerdekaan RI
Aroma kebangsaan yang dibalut semangat nasionalisme dengan nuansa lebih religius ini adalah sebuah euphoria yang kerap muncul dari anak bangsa ini setiap memasuki bulan Agustus. Biasanya, jauh-jauh hari sebelum tanggal 17 Agustus, pernak-pernik ‘agustusan’ sudah menghiasi diberbagai tempat. Umbul-umbul, baliho, spanduk, gapura dan tak ketinggalan bendera-bendera mulai ukuran kecil sampai besar, terpasang dipinggiran jalan, menjadi pemandangan yang amat menarik. Bahkan kegiatan-kegiatan perlombaan, mulai dari tarik tambang, balap karung sampai panjat pinang, tak luput menghiasi ekspresi kegembiraan dari perayaan kemerdekaan.


Pertanyaan yang kerap muncul dan menjadi bahan renungan setiap kali melewati bulan Agustus adalah : Apakah makna kemerdekaan bagi sebuah bangsa ? Apakah  kemerdekaan suatu bangsa yang dikumandangkan itu hanyalah bersifat politik belaka? Apakah kemerdekaan yang diproklamasikan tahun 1945 itu masih relevan dengan kondisi bangsa saat ini ? Tidak mudah untuk memeri jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut,  karena setiap jawaban yang diberikan pun ternyata akan berbenturan dengan realita yang terjadi sebenarnya. Tidak mudah merumuskan hakekat kemerdekaan sebagai terbebasnya umat manusia segala bentuk penjajahan, apalagi bila kemudian jenis-jenis penjajahan itu mengalami metamorfosa ke model-model penjajahan gaya baru (neoimperialisme) yang kerap membelenggu umat manusia.
                   

Bila kita menakar kemerdekaan bangsa ini dengan parameter konstitusi yakni Pembukaan UUD’45, khususnya alinea ke-4, setidak-tidaknya ada tiga hal penting yang perlu mendapat perhatian kita semua, yaitu kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan penegakkan keadilan. Kenyataannya, setelah 66 tahun merdeka, jeritan untuk terciptanya kesejahteraan umum, kecerdasan kehidupan bangsa dan keadilan, masih terus berdengung. Mungkin tidak lebih dari 10 persen yang sudah merasakan kondisi hidup yang benar-benar sejahtera dan memperoleh hak kecerdasan itu, baik di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial-ekonomi, dan lebih dari itu kesejahteraan dan keadilan masih tetap diawang-awang.
                             

Kemerdekaan yang sejatinya harus mampu mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang keadilan dan kemakmuran, kini harus menghadapi kenyataan sebaliknya. Kekayaan alam yang melimpah ruah di daratan dan lautan, kini dimiliki, dikuasai bahkan dirampok sebesar-besarnya oleh orang yang justru diamanahi untuk mengelolanya.
                        

 Memang untuk mencapai sebuah bangsa yang benar-benar merdeka, selalu ada proses panjang yang harus dilalui dengan dipenuhi gejolak dan goncangan. Seperti halnya sebuah sistem, maka selalu akan bergerak ke arah yang lebih baik dan stabil  jika ia digoncangkan oleh sebuah perubahan. Sebuah sistem yang telah mencapai keteraturan, pasti ia telah mengalami ketidakteraturan.
              

Begitu pula dengan pertumbuhan dan perkembangan sebuah bangsa, pasti mengalami keguncangan melalui sebuah revolusi yang berujung dengan kemerdekaan. Bangsa Indonesia yang dijajah selama hampir tiga setengah abad, mengalami penindasan dan tirani, namun mampu bangkit dan melawan, yang akhirnya bisa mencapai kemerdekaan, walau harus dibayar mahal dengan gugurnya para pahlawan. Oleh karena bangsa ini terus bergerak, maka kemerdekaan yang dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945 itu, bukan akhir dari sebuah perjuangan. Bangsa ini akan terus mengalami berbagai dinamika,  pertumbuhan dan guncangan-guncangan dan beberapa kali pula mengalami masa transisinya. Dari orla ke orba, dari orba ke reformasi dan dari reformasi entah ke masa apalagi.
                    

Menurut Jalaluddin Rumi, “Ketika manusia masih berupa janin, darah adalah makanannya, ketika ia dilepaskan dari darah, susu menjadi makanannya, setelah disapih dari susu, ia mampu memakan-makanan yang keras. Kehidupan kita bergantung pada sapihan“. Demikian pula bangsa ini. Setelah disapih para penjajah, kita menikmati kemerdekaan. Kemudian kita juga disapih oleh beberapa orde untuk mengembangkan kemerdekaan kearah yang lebih baik lagi, walau harus mengalami keguncangan. Seperti halnya ketika kita berat hati harus menyapih bayi demi berkembang  menjadi anak dan remaja dan semakin dewasa.
               

Memaknai  kemerdekaan merupakan upaya untuk menggali semangat dari proses perubahan yang senantiasa terjadi. Sikap optimitistik untuk memandang masa depan dengan penuh harapan,harus dikedepankan agar kita tidak menjadi bangsa yang hanya berjalan di tempat. Harapan (optimisme) adalah obor yang terus menyala dan menerangi kehidupan. Orang yang putus harapan (pesimisme), hakekatnya sudah mati sebelum dia mati. Bangsa ini harus senantiasa memiliki harapan, agar mampu mengisi, mempertahankan dan mengembangkan kemerdekaan ini.
                  


Memiliki harapan sembari terus berjuang adalah cerminan dari sikap mensyukuri kemerdekaan sebagai berkah dan rahmat Allah. Jika kita selalu mensyukuri kemerdekaan ini, maka pasti Allah akan melimpahkan anugerah kebaikan (rizqan thayyibah) di sepanjang kehidupan kita, sebagaimana firman-Nya :


dan ingatlah ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi, kamu takut orang-orang akan menculik (memperdayakannmu) kamu, Maka Allah memberi kamu tempat menetap  (yang aman) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik  agar kamu bersyukur.”(Qs. Al-Anfal : 26)


DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA  KE-66,  SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA !!!

Minggu, 14 Agustus 2011

UTS DAN UAS KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA


TEST PART I (UTS)


1.      Sebutkan pengertian Culture Shock dan jelaskan masing-masing tahapannya.?
Jawab :
Culture shock atau dalam bahasa Indonesia disebut “gegar budaya”, adalah istilah psikolgis untuk menggambarkan keadaan dan perasaan seseorang menghadapi kondisi lingkungan sosial dan budaya yang berbeda. Pada initinya, jika disimpulkan, gegar budaya adalah kondisi kecemasan yang dialami seseorang dalam rangka penyesuaiannya dalam lingkungan yang baru di mana nilai budaya yang ada tidak sesuai dengan nilai budaya yang dimilikinya sejak lama. Gegar budaya dianggap sebagai benturan persepsi yang diakibatkan penggunaan pesepsi berdasarkan faktor-faktor internal (nilai-nilai budaya) yang telah dipelajari orang yang bersangkutan dalam lingkungan baru yang nilai-nilai budayanya berbeda dan belum ia pahami.
Tahapan-tahapan Culture Shock, antara lain :
a.      Fase Bulan Madu, Pada fase ini, seseorang yang baru menginjakkan kakinya di wilayah yang asing baginya merasa semua hal berjalan mulus dan menyenangkan.  Hal-hal baru akan membuatnya merasa gembira dan menikmati gaya hidupnya di lingkungan dengan budaya baru.
b.      Fase Penolakan, Pada fase ini pendatang mulai harus berurusan dengan masalah-masalah kecil seperti transportasi, belanja kebutuhan, atau masalah komunikasi dengan masyarakat setempat. Pada fase inilah si pendatang mulai sering mengeluhkan hal-hal kecil didaerah barunya, fase ini juga yang paling penting untuk dikenali karena disinilah sipendatang mulai merasakan adanya “Krisis” dalam dirinya. Ia mulai menjelek-jelekkan daerah barunya, dan hanya bias melihat kekurangan-kekurangan yang ada.
c.       Fase Konformis, Pada fase inilah pendatang mulai memahami kebudayaan barunya, nilai-nilai moral yang berlaku serta apa yang menjadi panutan masyarakat disekitarnya. Krisis didalam dirinya telah berlalu ketika ia mulai dapat bertoleransi dengan perbedaan-perbedaar yang ada. Pada tahap inilah si pendatang secara 90% telah beradaptasi dengan lingkungan barunya
d.      Fase Asimilasi, Pada fase ini pendatang sudah bias menerima kebiasaan adat, pola pikir, bahkan makanan dan minuman di daerah barunya. Disinilah si pendatang berfikir bahwa tidak ada hal yang lebih baik atau kurang baik. Tetapi hanya “berbeda”. Bahwa ketika pulang kedaerah asalnya, ia mulai merindukan daerah yang pernah ditinggalinya dan selalu mengenang setiap peristiwa yang didalamnya untuk seumur hidup

2.      Di Indonesia kita mengenal masyarakat keturunan Cina. Menurut anda apakah secara umum mereka sudah mengalami proses asimilasi? Jelaskan beserta faktor yang menjadi pendorong/penghambat mereka melakukan asimilasi!
Jawab :
Menurut pendapat saya pribadi, masyarakat keturunan cina (tionghoa) di Indonesia sudah mengalami proses asimilasi. Alasannya, selain karena faktor historis masyarakat keturunan tionghoa yang telah ada sejak lama (sebelum kemerdekaan Indonesia), ada juga hal-hal lain yakni penggunaan nama-nama Indonesia oleh para warga keturunan tionghoa. Masyarakat keturunan tionghoa umumnya tidak lagi menggunakan identitas tionghoa mereka dalam data kependudukan dan administrasi, termasuk juga dalam memberikan nama terhadap tempat usaha mereka. Meskipun mereka masih menggunakan identitas tionghoa mereka saat berineraksi dengan sesamanya atau dengan komunitas tionghoa lainnya.
Faktor pendorong asimilasi :
a.       Toleransi di antara sesama kelompok yang berbeda kebudayaan
b.      Kesempatan yang sama dalam bidang ekonomi
c.       Kesediaan menghormati dan menghargai orang asing dan kebudayaan yang dibawanya.
d.      Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat
e.       Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan universal
f.       Perkawinan antara kelompok yang berbeda budaya

Faktor Penghalang asimilasi :
a.       Kelompok yang terisolasi atau terasing (biasanya kelompok minoritas)
b.      Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan baru yang dihadapi
c.       Prasangka negatif terhadap pengaruh kebudayaan baru. Kekhawatiran ini dapat diatasi dengan meningkatkan fungsi lembaga-lembaga kemasyarakatan
d.      Perasaan bahwa kebudayaan kelompok tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan kelompok lain. Kebanggaan berlebihan ini mengakibatkan kelompok yang satu tidak mau mengakui keberadaan kebudayaan kelompok lainnya
e.       Perbedaan ciri-ciri fisik, seperti warna kulit, bentuk mata,  atau rambut
f.       Perasaan yang kuat bahwa individu terikat pada kebudayaan kelompok yang bersangkutan
g.      Golongan minoritas mengalami gangguan dari kelompok penguasa

3.      Melting Pot adalah metafora yang digunakan untuk menggambarkan asimilasi masyarakat yang tinggal di Amerika Serikat. Apa yang dimaksud dengan melting pot dan apakah menurut pengamatan anda asimilasi sudah terjadi di Amerika Serikat pada masa sekarang ini? Jelaskan beserta contoh.
Jawab :
Melting pot adalah suatu keadaan dimana terjadinya peleburan berbagai ras, budaya, etnis dan agama di dalam sesuatu daerah, dimana mereka telah berasimilasi dan membawa kepada satu konsep asas tersendiri sehingga menimbulkan sebuah persatuan multietnis yang berkembang.
Menurut pengamatan pribadi saya, pada masa sekarang ini tentunya asimilasi telah terjadi di Amerika Serikat. Faktor historis bahwa Amerika Serikat merupakan negara yang didirikan oleh para imigran asal inggris dan bukan didirikan oleh bangsa asli amerika sendiri merupakan salah satu alasan saya. Selain itu peleburan antar etnis yang terjadi di Amerika Seriakat yang terdiri dari etnis Hispanic, Indian, Cina, Afro-America, dan sebagainya juga terasa cukup baik tanpa terjadi perpecahan. Meskipun terdapat indikasi etnis afro-america sedikit terpinggirkan, namun bukan berarti mereka tidak memiliki kesamaan hak. Contohnya adalah dengan terpilihnya Barrack Obama yang merupakan keturunan kulit hitam, sebagai Presiden Amerika Serikat. Selain itu, pernikahan antara etnis yang banyak terjadi di Amerika Serikat (antara orang amerika dengan orang keturunan asia, atau antara orang amerika dengan keturunan ameika latin) juga menunjukkan bahwa asimilasi di Amerika Serikat sudah cukup baik.




TEST PART II (UAS)

1.      Apa yang dimaksud dengan stereotype dan prejudice? Berikan contoh masing-masing pengertian!
Jawab :
  1. Stereotype
Stereotipe adalah kombinasi dari ciri-ciri yang paling sering diterapkan oleh suatu kelompok tehadap kelompok lain atau oleh seseorang kepada orang lain (Soekanto, 1993). Secara lebih tegas Matsumoto (1996) mendefinisikan stereotipe sebagai generalisasi kesan yang kita miliki mengenai seseorang terutama karakter psikologis atau sifat kepribadian. Ada juga yang mendefinisikan stereotipe sebagai “pemberian sifat tertentu terhadap seseorang atau sekelompok orang berdasarkan kategori yang bersifat subjektif, hanya karena ia berasal dari suatu kelompok tertentu (in group atau out group), yang bisa bersifat positif maupun negatif” (Amanda G., 2009)..
Contoh stereotype misalnya, kita mengenal bahwa wanita sunda adalah wanita yang matrealistis, orang minang adalah orang yang pelit dan pandai berdagang, atau kita juga mendengar bahwa orang jamaika yang identik dengan ganja.
  1. Prejudice (prasangka)
Prasangka merupakan pernyataan atau kesimpulan tentang sesuatu berdasarkan perasaan atau pengalaman yang dangkal terhadap seseorang atau sekelompok orang tertentu (Amanda G, 2009). Johnson (1986) mendefiniskan prasangka sebagai sikap positif atau negatif berdasarkan keyakinan stereotip kita tentang anggota dari kelompok tertentu. Liliweri (1995) juga menyebut prasangka yang mengandung sikap, pikiran, keyakinan, kepercayaan dan bukan tindakan (tetap ada di pikiran). Sedangkan Daft (1999) memberikan definisi prasangka lebih spesifik yakni kecenderungan untuk menilai secara negatif orang yang memiliki perbedaan dari umumnya orang dalam hal seksualitas, ras, etnik, atau yang memiliki kekurangan kemampuan fisik. Sedangkan sherif and sherif (dalam Ahmadi, 2007: 196) mengemukakan prasangka adalah suatu sikap negatif para anggota suatu kelompok, berasal dari norma mereka yang pasti, kepada kelompok lain beserta anggotanya. 
Contoh prasangka misalnya, orang Jepang dianggap kaku dan pekerja keras, orang Cina itu mata duitan, para politikus itu adalah penipu, dan lain-lain.
2.      Jelaskan pengaruh kebudayaan India/Hindu terhadap kebudayaan Indonesia dalam berbagai aspek budaya!
Jawab :

Adapun pengaruh kebudayaan India/Hindu terhadap kebudayaan Indonesia mencakup beberapa aspek kebudayaan, antara lain :
a.       Aspek Seni Bangunan
Dasar bangunan candi itu merupakan hasil pembangunan bangsa Indonesia dari zaman Megalitikum, yaitu bangunan punden berundak-undak. Punden berundak-undak ini mendapat pengaruh Hindu, sehingga menjadi wujud sebuah candi, seperti Candi Borobudur.
b.      Aspek Seni rupa/Seni lukis
Unsur seni rupa dan seni lukis India telah masuk ke Indonesia.hal ini terbukti dengan ditemukannya patung Budha berlanggam Gandara di kota Bangun, Kutai  Pada Candi Borobudur tampak adanya seni rupa India, dengan ditemukannya relief-relief ceritera Sang Budha Gautama. Relief pada Candi Borobudur pada umumnya lebih menunjukan suasana alam Indonesia, terlihat dengan adanya lukisan rumah panggung dan hiasan burung merpati.  Di samping itu, juga terdapat hiasan perahu bercadik. Lukisan-lukisan tersebut merupakan lukisan asli Indonesia, karena tidak  pernah ditemukan pada candi-candi yang terdapat di India. Juga relief pada Candi Prambanan yang memuat cerita Ramayana.
c.       Aspek Seni sastra
Prasasti-prasasti awal menunjukkan pengaruh Hindu di Indonesia, seperti yang ditemukan di Kalimantan Timur, Sriwijaya, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Prasasti itu ditulis dalam bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa.
d.      Aspek Sistem Penanggalan
Diadopsinya sistem kalender atau penanggalan India di Indonesia merupakan wujud dari akulturasi, yaitu terlihat dengan adanya penggunaan tahun Saka di Indonesia. Di samping itu, juga ditemukan Candra Sangkala atau konogram dalam usaha memperingati peristiwa dengan tahun atau kalender Saka. Candra Sangkala adala angka huruf berupa susunan kalimat atau gambar kata. Contoh tahun Candra Sangkala adalah “Sirna Ilang Kertaning Bumi” sama dengan 1400 (tahun saka) dan sama dengan 1478 Masehi.
e.       Aspek Kepercayaan dan Filsafat
Masuk dan berkembangnya pengaruh Hindu  meninggalkan kepercayaan asli bangsa Indonesia, terutama terlihat dari segi pemujaan terhadap roh nenek moyang dan pemujaan terhadap dewa-dewa alam.
f.       Aspek Pemerintahan
Setelah masuknya pengaruh Hindu,  tata pemerintahan disesuaikan dengan sistem kepala pemerintahan yang berkembang di India. Seorang kepala pemerintahan bukan lagi seorang kepala suku, melainkan seorang raja, yang memerintah wilayah kerajaannya secara turun temurun.
g.      Aspek Tradisi Spiritual
Meskipun saat ini Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia namun proses ibadah yang terjadi tidak terlepas dari pengaruh kebudayaan hindu. Misalnya saja tradisi balimau kasai di kabupaten Kampar, Riau dan tradisi penyerahan sesajian pada masyarakat islam kejawen di pulau jawa.



3.      Salah satu dimensi budaya menurut Hofstede adalah Masculinity/Feminity. Jelaskan arti kedua istilah tersebut, masyarakat negara mana yang tingkat maskulinitasnya tinggi, masyarakat negara mana yang tingkat feminitasnya tinggi, terletak dimanakan posisi Indonesia menurut anda? Berikan beserta contohnya masing-masing!
Jawab :

a.       Masculinity
Adalah perkembangan dimana nilai lebih dominan dalam masyarakat adalah yang berorientasi maskulin. Kultur maskulin menggunakan eksistensi biologis dari dua gender untuk menjelaskan aturan perbedaan social untuk laki-laki dan wanita, mereka mengharapkan lelaki lebih percaya diri, ambisius, dan kompetitif, dan bersemangat menggapai materi, menghormati yang besar, kuat dan cepat.
Contoh negara dengan tingkat maskulinitasnya tinggi adalah di jepang, dimana mayoritas posisi pimpinan maupun posisi legislatif dipegang oleh pria dengan persentase mencapai 95%.

b.      Feminity 
Adalah sebuah kultur yang menilai feminitas sebagai sikap yang bersikap maju. Dunia feminine melihat pengaturan bahwa lelaki perlu aktif dan karenanya mereka berasumsi dengan membuat aturan yang berkembang, juga didalamnya persamaan gender memegang peranan dalam lingkungan. Dapat disimpulkan dalam kultur feminine mereka menjaga agar “menguasai aturan sosial untuk semua gender”. Kemerdekaan internal dan kebiasaan persamaan gender adalah yang ideal, dan orang akan bersimpati dengan ketidak beruntungan tersebut. 
Contoh negara dengan tingkat feminitasnya tinggi adalah Swedia, dimana wanita memiliki persentase 41% mengusai posisi legislatif.

Sedangkan di Indonesia sendiri, menurut pribadi saya, tingkat maskulinitasnya lebih tinggi daripada feminitasnya. Tentu saja hal ini sama seperti negara-negara lain yang masih menjunjung tinggi tradisi ketimuran dan beranggapan bahwa wanita kodratnya hanya berada “dibawah pria”. Selain itu hal tersebut dapat tercermin dari posisi pemerintahan dan legislative yang didominasi oleh kaum pria, meskipun tidak ada larangan bagi wanita untuk menempati posisi tersebut.